Pikiran itu seutuhnya murni dan tanpa bentuk. Ia tak lebih seperti sebuah perangkat. Alat untuk mengenali dan menjelaskan sesuatu.
Pikiran memiliki kekuatan menciptakan fenomena dualitas manusia. Positif dan negatif. Ia mampu menerima obyek-obyeknya, menelisiknya dan mengetahuinya karena memang fungsinya sebagai alat untuk menerima dan mengetahui obyek-obyek yang diterimanya. Pikiran kusebut juga Kesadaran.
Jangan kusamakan pikiran dan diri atau aku. Diri adalah sang aku yang kalau ditelisik ia menghubungkan namaku dengan lima susunan pembentuk diriku. Kelima susunan pembentuk "diri" adalah wadah yakni badanku, kesadaran kasarku, perasaanku, kekuatan membedakan dan sifat-sifat mental yang kumiliki. Tanpa kelima penyusun ini aku bukanlah manusia.
Diri itu adalah aku atau sering kita sebut "orang". Kesatuan dari badan, pikiran kasar, perasaan, sifat-sifat mental dan kemampuan membedakan itulah aku.
Fungsiku adalah untuk berbuat dan merasakan akibat dari segala perbuatanku. Untuk dapat melakukan fungsiku dengan baik, maka aku bergantung pada dua unsur mental utama pikiran yakni: kemampuan membedakan dan perasaan.
Bila seseorang tidak memiliki kemampuan untuk membedakan maka ia tidak akan mampu melakukan apapun dan bila seseorang tidak memiliki perasaan maka ia tidak bisa merasakan akibat dari perbuatannya.
Kemampuan membedakan adalah unsur mental yang berfungsi untuk memahami dan menilai keistimewaan unsur-unsur dari segala obyek.
Setiap obyek yang dibayangkan oleh pikiran pasti memiliki keistimewaan unsur-unsur pembentuknya, yang membedakannya dari obyek lainnya. Ketika aku melihat sebuah pohon, penglihatanku bisa melihat jelas keistimewaan yang menjadi ciri khas dari pohon sehingga aku bisa membedakan pohon dari meja, kursi atau benda lainnya. Apabila aku tidak memiliki "kemampuan untuk membedakan obyek-obyek pikiran" maka aku tidak bisa melihat dengan jelas kalau pohon itu adalah pohon. Untuk melihat dengan jelas dan memahami apa yang kulihat atau dengar atau rasakan, aku harus memiliki "kemampuan untuk membedakan" tanda-tanda khusus obyek yang menjadi ciri khas atau keistimewaan dari obyek tersebut. Bayi yang baru lahir, kemampuan untuk membedakan obyek-obyek pikirannya belum berkembang. Maka dari itu ia belum bisa membedakan benda-benda yang dilihat dan didengarnya.
Fungsi dari unsur mental "kemampuan membedakan" adalah untuk menilai sebuah obyek dan membedakannya dengan obyek lainnya sehingga kita bisa mendifinisikan dan menilai sebuah obyek sebagai “ini” dan “bukan itu”. Kemampuan untuk membedakan berhubungan dengan pikiran konseptual yang fungsinya adalah untuk menghubungkan nama dengan obyek-obyek yang bersangkutan.
Ada dua jalan untuk menghubungkan obyek-obyek tersebut ke dalam pikiran: pertama melalui suara-suara yang diterima: ketika mendengar atau membaca nama-nama maka pikiran akan langsung membayangkan nama-nama tersebut dengan bayangan obyeknya. Yang kedua melalui perhatian seperti menilai obyek-obyek yang dipikirkannya.
!Disaat kita menilai keistimewaan unsur khas pembentuk sebuah obyek, ingat,kalau peniliaian ini hanya diciptakan oleh pikiran kita dan penilaian ini tidak berasal langsung dari sisi obyek itu sendiri. Penilaian ini hanya ada di dalam pikiran kita saja. Masing-masing orang memiliki penilaian yang berbeda-beda terhadap sebuah obyek yang sama. Misalnya ketika menilai seseorang yang bernama Liliana, ada yang menilainya dia adalah kawan dan ada juga yang menilainya kalau dia adalah musuh. Walaupun disini ada dua penilaian yang bertentangan namun dari sisi obyek itu sendiri tidak ada pertentangan karena ia bukan teman dan bukan juga lawan bagi dirinya sendiri. Karakter khusus dari penilaian orang tidak ada hubungannya dengan obyek tersebut. Unsur-unsur khas yang disebut karakter tersendiri dari sebuah obyek hanya muncul dari pikiran lain yang menilainya dan penilaian unsur-unsur khusus tersebut bukan datang dari obyeknya sendiri. Jadi kalau dilihat dari sisi obyeknya sebenarnya unsur-unsur khusus tersebut tidak ada.
Kita lah yang menilai bagaimana karakter sebuah obyek. Kitalah yang menentukan cara menilai sebuah obyek. Disinilah kekuatan dari pikiran. Ia bisa menjadi liar apabila tidak dikendalikan dengan baik. Kalau ia tidak terkontrol, ia akan menjadi biang kehancuran. Oleh sebab itu untuk menghindari kehancuran, kita harus belajar mengendalikan pikiran sehingga kita bisa mengarahkan bagaimana cara menilai obyek secara positif dan berguna untuk kebaikan dan kedamaian.
Sedangkan Perasaan adalah unsur mental yang berfungsi untuk merasakan obyek-obyek kebahagiaan dan kesedihan. Karena pada prinsipnya ada dua jenis obyek: obyek yang membuat kita menyukai dan obyek yang membuat kita tidak menyukainya. Kita akan selalu pernah merasakan bahagia dan juga sedih. Dalam hidup, manusia duniawi tidak mungkin bisa terlepas dari kedua perasaan ini. Hanya para yogi yang mampu selamanya memelihara perasaan bahagia melalui latihan meditasinya yang benar.
“Buah dari segala perbuatan
tidak akan matang di tanah atau di batu namun hanya akan kita tuai di dalam
kesadaran kita”
Kita bisa merasakan perbuatan kita karena pikiran kita memiliki perasaan dan hanya perasaan yang mampu merasakan hasil dan akibat dari perbuatan kita.
Perbuatan yang baik menghasilkan rasa bahagia dan perbuatan jahat menghasilkan rasa tak puas.
Kita cenderung berpikir bahwa rasa bahagia dan kecewa adalah efek yang dibawa oleh obyek-obyek yang datang kepada kita namun sebenarnya rasa bahagia dan kecewa adalah seutuhnya merupakan akibat dari perbuatan kita sendiri.
Dua orang bisa merasakan rasa yang berbeda dari sebuah jenis makanan. Yang satu merasakan enak dan yang satu lagi merasakan jijik. Padahal makanannya sama. Jelas sudah bahwa enak atau tidak enak bukan berasal dari obyeknya namun berasal dari si pemilik pikiran yang menilainya.
Perasaan senang yang terkontaminasi akan menyebabkan kita menjadi terikat akan obyek-obyek duniawi dan perasaan tidak menyukai yang terkontaminasi akan menyebabkan rasa benci.
“Karena perasaanlah yang menyebabkan kita menjadi terikat”
Ketika orang awam seperti kita terlalu memanjakan perasaannya, ia akan menjadi terikat akan obyek-obyek yang disukainya. Perasaan yang terkontaminasi ibaratnya seperti udara lembab yang menyuburkan benih-benih khayalan yang terkubur dalam di pikiran kita. Bila kita mampu lepas dari keakuan diri maka kita akan terbebaskan dari perasaan-perasaan yang terkontaminasi.
Semua perasaan-perasaan yang terkontaminasi adalah perasaa-perasaan yang terjangkit penyakit dan harus disembuhkan. Memang mudah bagi kita untuk menciptakan keinginan membasmi perasaan-perasaan tidak menyukai sesuatu namun untuk membangkitkan perasaan-perasaan suka terhadap sesuatu apalagi sesuatu yang tidak disukai, sangatlah sulit. Untuk itu kita memerlukan dasar pengertian mengenai sifat alamiah dari segala kesengsaraan.
Keduanya, baik itu perasaan-perasaan dan kemampuan membedakan yang terkontaminasi adalah sumber rantai pengikat kita pada tonggak kesengsaraan hidup. Karena kemampuan membedakan yang terkontaminasi akan menilai obyek-obyeknya sebagai sesuatu yang membahagiakan dan yang mengecewakan kemudian akan dirasakan oleh perasaan-perasaan yang terkontaminasi pula.
Selanjutnya perasaan-perasaan yang terkontaminasi akan membangkitkan tiga racun pikiran yakni keterikatan, kebencian dan kebodohan dimana ketiganya akan mempengaruhi apa yang kita perbuat. Perbuatan yang dihasilkan dari kemampuan membedakan yang terkontaminasi akan menghasilkan perbuatan yang terkontaminasi pula. Maka sembuhkan pikiran dari racun-racun yang menyakitinya. Dan kekang pikiran ketika kita berkhayal menjadi seseorang yang bukan diri kita.
No comments:
Post a Comment