Wednesday, April 2, 2014

kisah tiga genjia


Cerita rakyat Tibet dari Propinsi Sichuan

Di suatu zaman di suatu tempat telah hidup tiga orang lelaki dengan nama yang sama: GENJIA. 
Genjia pertama adalah kepala suku, Genjia kedua adalah seorang tukang kayu dan Genjia yang ketiga adalah seorang kepala pelayan. Genjia tukang kayu menikah dengan seorang wanita yang cantik dan baik budi. Mereka saling mencintai dan bahagia atas berkat keindahan itu. Diam-diam Genjia sang kepala pelayan jatuh hati kepada istri temannya. Siang dan malam tiada hentinya ia memimpikan ingin memiliki wanita pujaannya. Namun sayangnya cintanya bertepuk sebelah tangan. Wanita, istri Genjia tukang kayu tidak mencintainya. Genjia sang kepala pelayan berpikiran bahwa Genjia tukang kayulah biang kerok    mengapa sampai cintanya tidak dibalas  Benci meliputi benaknya, seribu rencana dipikirkannya untuk bisa mengambil hati pujaannya. Sampai akhirnya ia ingin membunuh Genjia si tukang kayu.

Suatu hari ayah Genjia kepala suku wafat. Alangkah puasnya Genjia si kepala pelayan karena ia akhirnya menemukan rencana brilian untuk menghabisi saingannya. Diam-diam ia menyelinap ke perpustakaan ayah Genjia si kepala suku, mempelajari kaligrafi kitab suci Buddha dan berhasil mengkopi gaya tulisan kitab tersebut. Selang beberapa waktu ia menulis dokumen kaligrafi dengan gaya tulisan kuno dan menyerahkannya kepada tuannya, Genjia si kepala suku. “Tuan...saya menemukan gulungan dokumen ini ketika sedang membersihkan ruangan. Silahkan tuan membaca dan menguraikannya. Maafkan saya yang bodoh dan tidak bisa membaca ini,”katanya sambil menyerahkan dokumen tersebut.
Genjia si kepala suku bingung ketika membuka dokumen itu. Ia tidak mampu membacanya karena jenis tulisannya sangat tua dan langka. Akhirnya ia menyerahkan kepada sekretarisnya agar dibacakannya. “Dokumen ini berasal dari ayah anda, dikirim dari kahyangan. Beliau mengatakan kalau ia sudah berada di kahyangan, ia menjabat sebagai pejabat tinggi disana. Hidupnya bahagia tidak ada yang perlu dikhawatirkan hanya saja saat ini ia sedang dirundung kegelisahan karena ia belum memiliki rumah. Ia menginginkan agar Genjia anaknya, bisa mengizinkan Genjia si tukang kayu untuk membantunya membuatkan rumah di kahyangan. Ia meminta tuan untuk mengirimkan Genjia si tukang kayu karena ia adalah tukang kayu paling utama di negeri ini.”
Genjia sang kepala suku menjadi bimbang hatinya. Berhari-hari ia memikirkan apa yang harus dilakukannya. Bagaimana ia bisa mengirim Genjia si tukang kayu ke kahyangan? Tapi kalau tidak melakukan itu, ia kasihan kepada ayahnya yang tidak memiliki rumah. Akhirnya ia memanggil Genjia si tukang kayu. Ia menyampaikan apa yang sedang terjadi. Genjia sang kepala suku memperlihatkan dokumen kiriman ayahnya dari kahyangan. Mendengar hal ini Genjia si tukang kayu terkejut. Itu berarti kematian baginya. Tapi ia hanyalah seorang abdi yang setia. Tidak mungkin menolak apa yang diperintahkan oleh tuannya. “Setelah kau selesai membangun rumah untuk ayahmu, kau bisa kembali kemari lagi,” kata Genjia kepala suku.

Genjia si tukang kayu setuju dan meminta agar tuannya memberikan tenggang waktu delapan hari untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukannya. Setelah tuannya menyetujuinya bergegas ia mencari tahu darimana asal dokumen tersebut, siapa yang memberikan dokumen itu kepada Genjia, tuannya sang kepala suku. Dari sang sekretaris akhirnya Genjia, si tukang kayu tahu kalau surat itu diberikan oleh Genjia, si kepala pelayan. Tanpa menunggu waktu lagi ia langsung menemui istrinya dan menjelaskan kejadian yang sedang menimpanya. Mereka mencocokkan satu cerita dengan cerita lainnya. Genjia si tukang kayu mengerti kalau ini semua adalah rencana jahat Genjia si kepala pelayan untuk mengenyahkannya agar bisa mendapatkan istrinya. Mereka menyusun rencana untuk menyelamatkan diri dari malapetaka tersebut. Genjia si tukang kayu meminta kepada tuannya untuk menyelenggarakan upacara pembakaran ranting yang diadakan di belakan rumahnya sebelum ia pergi ke kahyangan. Ranting-ranting disusun menumpuk seperti gunung yang nantinya akan dibakar bersama tubuhnya. Upacara ini pun harus diselenggarakan meriah dengan iringan genderang dan bunyi-bunyian. Tentu saja segala permintaan Genjia si tukang kayu disetujui oleh Genjia, sang kepala suku. Ia berharap ayahnya segera bisa tenang di kahyangan. Selama tujuh hari tersisa, Genjia dan istrinya bekerja keras menggali lubang membuat lorong bawah tanah dari tempat pembakaran menuju kamar tidurnya. Lorong tersebut dibuat serapi mungkin. Kedua ujungnya ditutup dengan batu besar dan tanah. Genjia si tukang kayu berpesan kepada istrinya untuk tidak pernah membuka lorong itu dan tidak pernah menemuinya selama setahun. Ia cukup meletakkan minuman susu dan roti secukupnya di lubang rahasia. Sedih hati istri Genjia si tukang kayu memikirkan apa yang akan terjadi. Namun Genjia menghiburnya dengan sabar bahwa apa yang mereka perbuat adalah sebuah usaha untuk keluar dari malapetaka.

Akhirnya waktu pun tiba. Delapan hari telah berlalu. Segenap warga berdatangan menyaksikan upacara keberangkatan Genjia si tukang ke kahyangan. Genjia si kepala pelayan tersenyum menyaksikan rencananya berhasil. Sebentar lagi ia akan bersanding dengan wanita pujaannya. Tabur genderang dan terompet diiringi sorak sorai warga menyambut Genjia si tukang kayu yang berjalan menuju ke dalam tumpukan ranting-ranting yang menyerupai gunung lancip. Ia berdiri tegak dengan membawa tas besar dari besi yang biasanya ia bawa untuk bekerja. Ia memandang kepada Genjia si kepala pelayan penuh arti. Genjia, si kepala pelayan mengecut hatinya. Seketika ia takut kalau rencananya akan gagal. Kesempatan ini hanya ada sekali saja pikirnya. Kalap ia mengambil kayu bakar menyulutnya dengan api, lalu berteriak,”Hayo sulutlah kayu bakar ini, bunyikan terompet dan genderangmu, bergembiralah karena Genjia si tukang kayu akan pergi ke kahyangan membangun rumah ayah tuan kita. Bukanlah ini sesuatu yang bagus untuk kita?!”

Akhirnya ranting-ranting terbakar. Orang-orang sibuk meniupkan terompet dan memainkan genderangnya, kemudian menikmati suasana pesta yang diselenggarakan oleh Genjia sang kepala suku. Tak seorang pun yang kembali menengok keadaan rumah Genjia si tukang kayu.
Hanya Genjia sang kepala suku yang miris memikirkan Genjia si tukang kayu. Melihat keadaan itu Genjia si kepala pelayan menghiburnya dan mengatakan kalau Genjia akan kembali lagi setelah ia selesai menyelesaikan tugasnya untuk ayahndanya.

Disaat api sudah mulai disulut, gemeretak kayu yang rapat yang membungkus tubuh Genjia si tukang kayu mulai terasa panas, ia membuka penutup kayu, masuk ke dalam lorong, kemudian menutup kembali lubangnya dengan batu besar dengan baik. Sementara orang-orang di luar sana masih bergembira merayakan pesta dan berbondong-bondong pergi meninggalkan tempat pembakaran, Genjia merangkak menuju ke tempat persembunyiannya, ruangan kecil bawah tanah tepat di bawah kamar tidurnya. Mulai hari itu ia menghabiskan waktunya di tempat persembunyiannya sambil mempelajari kaligrafi kitab suci Buddha dengan tekun. Dalam pada itu Genjia si kepala pelayan berusaha keras untuk merayu istri Genjia si tukang kayu untuk menjadi istrinya. Namun niat Genjia si kepala pelayan selalu ditolaknya dan istri Genjia si tukang kayu selalu menghindar untuk bisa ditemui oleh Genjia si kepala pelayan.

Satu tahun pun berlalu. Karena tidak bekerja maka tidak heran kalau Genjia si tukang kayu menjadi gemuk dan kulitnya pun putih bersih. Ia muncul kembali di tempat yang sama ketika di bakar. “Hai semuanya, warga yang kucintai, dimana kalian berada? Aku telah datang dan telah menyelesaikan tugasku dengan baik.” Mendengar teriakan memanggil yang keras, satu persatu warga berdatangan dan berkumpul. Betapa bahagianya Genjia sang kepala suku mendengar berita kedatangan abdinya itu. Tanpa menunggu lagi, ia bergegas menemui Genjia si tukang kayu. Ia mengundang Ganjia si tukang kayu dan istrinya ke perjamuan makan di rumahnya yang megah. Sambil menikmati jamuan, Genji sang kepala suku menanyakan bagaimana keadaan ayahnya di kahyangan. Ganjia si tukang kayu menjelaskan bahwa ayah tuannya dalam keadaan baik, ia bahagia telah menempati rumahnya hanya saja ada yang belum lengkap untuknya. Ia memerlukan kepala pelayan untuk melayaninya di sana. Ia menginginkan Genjia si kepala pelayan disana. Ganjia si tukang kayu pun menyerahkan dokumen titipan ayah Ganjia sang kepala suku. Genjia si kepala pelayan mendengarkan cerita tentang kahyangan dengan takjub. Ia tidak menyangka kalau apa yang diisukannya memang benar terjadi. “Mungkin memang benar ada kahyangan disana. Dan ceritaku memiliki kekuatan magis. Disana pasti banyak gadis cantik melebihi kecantikan istri Genjia si tukang kayu,” pikir Genjia si kepala pelayan. Ia pun tertarik akan cerita Genjia si tukang kayu. Tanpa diminta ia menyetujui rencana tersebut. Sama seperti permintaan Genjia si tukang kayu, ia mengajukan syarat tenggang waktu delapan hari dan pesta pembakaran yang sama di belakang rumahnya. Maka ketika delapan hari telah berlalu, Genjia si kepala pelayan pun masuk ke dalam tumpukan ranting dan dibakar oleh segenap warga. Lalu mereka meninggalkan tempat pembakaran menuju ke tempat jamuan pesta kepala suku. Warga tidak menyadari kalau upacara pembakaran yang berjalan sama seperti dulu berakhir lain. Ketika tempat pembakaran telah sepi manusia, disana tampak seonggok abu manusia bercampur sekam ranting-ranting yang basah dibasuh hujan malam.




Monday, March 31, 2014

pikiran itu logika.


Pikiran itu seutuhnya murni dan tanpa bentuk. Ia tak lebih seperti sebuah perangkat. Alat untuk mengenali dan menjelaskan sesuatu.
Pikiran memiliki kekuatan menciptakan fenomena dualitas manusia. Positif dan negatif. Ia mampu menerima obyek-obyeknya, menelisiknya dan mengetahuinya karena memang fungsinya sebagai alat untuk menerima dan mengetahui obyek-obyek yang diterimanya. Pikiran kusebut juga Kesadaran.

Jangan kusamakan pikiran dan diri atau aku. Diri adalah sang aku yang kalau ditelisik ia menghubungkan namaku dengan lima susunan pembentuk diriku. Kelima susunan pembentuk "diri" adalah wadah yakni badanku, kesadaran kasarku,  perasaanku, kekuatan membedakan dan  sifat-sifat mental yang kumiliki. Tanpa kelima penyusun ini aku bukanlah manusia.

Diri itu adalah aku atau sering kita sebut "orang". Kesatuan dari badan, pikiran kasar, perasaan, sifat-sifat mental dan kemampuan membedakan itulah aku.
Fungsiku adalah untuk berbuat dan merasakan akibat dari segala perbuatanku. Untuk dapat melakukan fungsiku dengan baik, maka aku bergantung pada dua unsur mental utama pikiran yakni: kemampuan membedakan dan perasaan.

Bila seseorang tidak memiliki kemampuan untuk membedakan maka ia tidak akan mampu melakukan apapun dan bila seseorang tidak memiliki perasaan maka ia tidak bisa merasakan akibat dari perbuatannya.

Kemampuan membedakan adalah unsur mental yang berfungsi untuk memahami dan menilai keistimewaan unsur-unsur dari segala obyek.
Setiap obyek yang dibayangkan oleh pikiran pasti memiliki keistimewaan unsur-unsur pembentuknya, yang membedakannya dari obyek lainnya. Ketika aku melihat sebuah pohon, penglihatanku bisa melihat jelas keistimewaan yang menjadi ciri khas dari pohon sehingga aku bisa membedakan pohon dari meja, kursi atau benda lainnya. Apabila aku tidak memiliki "kemampuan untuk membedakan obyek-obyek pikiran" maka aku tidak bisa melihat dengan jelas kalau pohon itu adalah pohon. Untuk melihat dengan jelas dan memahami apa yang kulihat atau dengar atau rasakan, aku harus memiliki "kemampuan untuk membedakan" tanda-tanda khusus obyek yang menjadi ciri khas  atau keistimewaan dari obyek tersebut. Bayi yang baru lahir, kemampuan untuk membedakan obyek-obyek pikirannya belum berkembang. Maka dari itu ia belum bisa membedakan benda-benda yang dilihat dan didengarnya.

Fungsi dari unsur mental "kemampuan membedakan" adalah untuk menilai sebuah obyek dan membedakannya dengan obyek lainnya sehingga kita bisa mendifinisikan dan menilai sebuah obyek  sebagai “ini” dan “bukan itu”. Kemampuan untuk membedakan berhubungan dengan pikiran konseptual yang fungsinya adalah untuk menghubungkan nama dengan obyek-obyek yang bersangkutan.
Ada dua jalan untuk menghubungkan obyek-obyek tersebut ke dalam pikiran: pertama melalui suara-suara yang diterima: ketika mendengar atau membaca nama-nama maka pikiran akan langsung membayangkan nama-nama tersebut dengan bayangan obyeknya. Yang kedua melalui perhatian seperti menilai obyek-obyek yang dipikirkannya.

!Disaat kita menilai keistimewaan unsur khas pembentuk sebuah obyek, ingat,kalau peniliaian ini hanya diciptakan oleh pikiran kita dan penilaian ini tidak berasal langsung dari sisi obyek itu sendiri. Penilaian ini hanya ada di dalam pikiran kita saja. Masing-masing orang memiliki penilaian yang berbeda-beda terhadap sebuah obyek yang sama. Misalnya ketika menilai seseorang yang bernama Liliana, ada yang menilainya dia adalah kawan dan ada juga yang menilainya kalau dia adalah musuh. Walaupun disini ada dua penilaian yang bertentangan namun dari sisi obyek itu sendiri tidak ada pertentangan karena ia bukan teman dan bukan juga lawan bagi dirinya sendiri. Karakter khusus dari penilaian orang tidak ada hubungannya dengan obyek tersebut. Unsur-unsur khas yang disebut karakter tersendiri dari sebuah obyek hanya muncul dari pikiran lain yang menilainya dan penilaian unsur-unsur khusus tersebut bukan datang dari obyeknya sendiri. Jadi kalau dilihat dari sisi obyeknya sebenarnya unsur-unsur khusus tersebut tidak ada.

Kita lah yang menilai bagaimana karakter sebuah obyek. Kitalah yang menentukan cara menilai sebuah obyek. Disinilah kekuatan dari pikiran. Ia bisa menjadi liar apabila tidak dikendalikan dengan baik. Kalau ia tidak terkontrol, ia akan menjadi biang kehancuran. Oleh sebab itu untuk menghindari kehancuran, kita harus belajar mengendalikan pikiran sehingga kita bisa mengarahkan bagaimana cara menilai obyek secara positif dan berguna untuk kebaikan dan kedamaian.

Sedangkan Perasaan adalah unsur mental yang berfungsi untuk merasakan obyek-obyek kebahagiaan dan kesedihan.  Karena pada prinsipnya ada dua jenis obyek: obyek yang membuat kita menyukai dan obyek yang membuat kita tidak menyukainya. Kita akan selalu pernah merasakan bahagia dan juga sedih. Dalam hidup, manusia duniawi tidak mungkin bisa terlepas dari kedua perasaan ini. Hanya para yogi yang mampu selamanya memelihara perasaan bahagia melalui latihan meditasinya yang benar.
“Buah dari segala perbuatan tidak akan matang di tanah atau di batu namun hanya akan kita tuai di dalam kesadaran kita”

Kita bisa merasakan perbuatan kita karena pikiran kita memiliki perasaan dan hanya perasaan yang mampu merasakan hasil dan akibat dari perbuatan kita.
Perbuatan yang baik menghasilkan rasa bahagia dan perbuatan jahat menghasilkan rasa tak puas.
Kita cenderung berpikir bahwa rasa bahagia dan kecewa adalah efek yang dibawa oleh obyek-obyek yang datang kepada kita namun sebenarnya rasa bahagia dan kecewa adalah seutuhnya merupakan akibat dari perbuatan kita sendiri.

Dua orang bisa merasakan rasa yang berbeda dari sebuah jenis makanan. Yang satu merasakan enak dan yang satu lagi merasakan jijik. Padahal makanannya sama. Jelas sudah bahwa enak atau tidak enak bukan berasal dari obyeknya namun berasal dari si pemilik pikiran yang menilainya.
Perasaan senang yang terkontaminasi akan menyebabkan kita menjadi terikat akan obyek-obyek duniawi dan perasaan tidak menyukai yang terkontaminasi akan menyebabkan rasa benci.
Karena perasaanlah yang menyebabkan kita menjadi terikat”

Ketika orang awam seperti kita terlalu memanjakan perasaannya, ia akan menjadi terikat akan obyek-obyek yang disukainya. Perasaan yang terkontaminasi ibaratnya seperti udara lembab yang menyuburkan benih-benih khayalan yang terkubur dalam di pikiran kita. Bila kita mampu lepas dari keakuan diri maka kita akan terbebaskan dari perasaan-perasaan yang terkontaminasi.

Semua perasaan-perasaan yang terkontaminasi adalah perasaa-perasaan yang terjangkit penyakit dan harus disembuhkan. Memang mudah bagi kita untuk menciptakan keinginan membasmi perasaan-perasaan tidak menyukai sesuatu namun untuk membangkitkan  perasaan-perasaan suka terhadap sesuatu apalagi sesuatu yang tidak disukai, sangatlah sulit. Untuk itu kita memerlukan dasar pengertian mengenai sifat alamiah dari segala kesengsaraan.

Keduanya, baik itu perasaan-perasaan dan kemampuan membedakan yang terkontaminasi adalah sumber rantai pengikat kita pada tonggak kesengsaraan hidup. Karena kemampuan membedakan yang terkontaminasi akan menilai obyek-obyeknya sebagai sesuatu yang membahagiakan dan yang mengecewakan kemudian akan dirasakan oleh perasaan-perasaan yang terkontaminasi pula. 

Selanjutnya perasaan-perasaan yang terkontaminasi akan membangkitkan tiga racun pikiran yakni keterikatan, kebencian dan kebodohan dimana ketiganya akan mempengaruhi apa yang kita perbuat. Perbuatan yang dihasilkan dari  kemampuan membedakan yang terkontaminasi akan menghasilkan perbuatan yang terkontaminasi pula. Maka sembuhkan pikiran dari racun-racun yang menyakitinya. Dan kekang pikiran ketika kita berkhayal menjadi seseorang yang bukan diri kita.

berbicara dengan orang gila.


berbicara dengan orang gila

Sejak aku datang di kawasan Pura itu, aku sudah tertarik dengan dia. Tingkahnya agak lain. Dia suka bermain dengan monyet-monyet nakal di sekitar hutan yang mengelilingi Pura. Aku memandang dia sebentar tanpa ingin memperhatikan. Aku memandang dia bukan karena aku heran namun hanya sebagai sikap spontan seperti signal sapaan. Aku mengeluarkan sajen persembahyangan dari dalam mobil, menutup mobil lalu menguncinya kemudian berjalan menuju ke dalam Pura. Ketika aku melewati dia, serentak monyet-monyet bubar bermain dengan dia. Dia melongo memandang laut. Aku seperti latah, ikut memandang laut. Tidak ada apa disana hanya ada air laut dan batas horizon. Aku lanjutkan lagi langkah menuju ke sebuah  Pura berdinding bukit.
Puji syukur semuanya berjalan lancar dan damai. Setelah bersembahyang, aku diajak ngobrol oleh wanita tua yang bergelar Jero Mangku Lingsir, dia pemangku Pura disana. Mungkin memang sudah kesukaannya, wanita tua itu menceritakan pengalaman  mengenai kekuatan mistik dan gaib, kekuasaan, taksu wibawa dan musim hujan. Aku cukup mendengarkan saja, sambil sesekali membetulkan statemennya tentang tema tadi. Anggap saja itu sebuah percakapan ringan sambil berbenah sebelum pamit.
Sebelum aku meninggalkan Pura, wanita yang bergelar, Jero Mangku Lingsir itu berkata sambil menunjuk ke arah laut,” Bu, hati-hati dengan dia, jangan didekati, dia orang gila. Berbahaya!”
Aku menoleh ke arah jari telunjuk wanita tua itu mengarah dan langsung paham dengan apa yang dimaksud Jro Mangku Lingsir itu. Siapa lagi kalau bukan orang yang sedang bermain dengan monyet-monyet itu. Ternyata dia, orang yang membuatku tertarik sejak kedatanganku. Aku tersenyum dan mengangguk kemudian menuruni tangga keluar menuju mobil.
Sama seperti sebelumnya “dia” masih terlihat sibuk asik bermain, sama sibuknya dengan aku yang sedang meringkas barang sehabis persembahyangan di dalam mobil. Tiba-tiba seperti ada yang mendorong badanku ke kanan dengan halus, sampai aku agak oleng, dengan kaki kiri terangkat ke atas sedikit. Dalam satu hentakan sandalku diculik oleh satu monyet besar. Sontak aku terkejut dan panik. Aku berusaha mengembalikan orientasi pikiranku, menarik fakta-fakta kejadian kronologis kenapa sandalku lepas dari kakiku. Lalu mataku menoleh ke arah “dia”, yang sedang memandangi aku. Aku tutup mobilku, dengan berjalan memakai satu sandal aku dekati dia.
“Hai, saya Ambra, sandal saya diambil oleh temanmu,” sapaku kaku, benar saja bagaimana kata-kata Jro Mangku Lingsir sudah mengkontaminasi otakku sehingga menimbulkan rasa takut di pikiranku.
“Saya sedang mandi,” jawabnya.
Tak heran kalau mataku hampir copot. Bagaimana dia bilang dirinya sedang mandi padahal jelas-jelas dia sedang bermain dengan segerombolan monyet di tanah, di depan gundukan sampah-sampah hasil dari persembahyangan.
“Kamu mau ikut mandi, Ambra?” tanya dia lagi sambil tersenyum dan santai menanggapi para monyet ada yang bertengger di bahunya, mengobrak-abrik rambutnya, ada yang di pangkuannya, ada yang bergelayut dibadannya. Dan itu dia, si monyet dengan sandalku menghampiri dia, lalu duduk disamping dia, sambil menciumi sandalku.
“Itu...itu...temanmu mengambil sandalku. Jangan diciumi, sandal itu kotor,” kataku sambil berharap dia mengerti bahasaku.
Dia menoleh sejenak ke arah monyet yang menciumi sandalku. Busyet ...dan monyet itu pun membalas tatapannya sambil menyeringai, kemudian lanjut lagi menciumi sandalku. Edan ini!
“Kamu bukan orang gila toh?!” tanya dia kepadaku.
Jawabanku mantap langsung menggeleng.
“Apa kata ikan-ikan itu? Mereka itu anak-anakku. Aku sedang memandikannya. Kalian itu pelit, hanya bisa menyalahkan hantu!” katanya.
Wahhhh...ini dia! Apa orang bilang kalau begini. Rasanya ingin aku pergi meninggalkan dia, membiarkan sandalku diambil monyet itu. Aku relakan dengan senang hati. Nanti di jalan aku beli lagi sandal jepit murah. Mungkin ini sebuah ujian untuk tidak terikat dengan obyek dunia dengan sebuah sandal, sandal kesayanganku, yang kubeli di sebuah negeri antah berantah. Yah ndak apalah, mungkin monyet itu suka sandalku.
“Bukankah kamu sedang bermain dengan monyet? Ikan-ikan di laut, di seberang sana,” jawabanku adalah simbul sebuah keterpikatan untuk berada bersama dia.
“Kamu ikutlah mandi biar ikan-ikan itu pun merasa nyaman di laut,” katanya lagi.
“Tidak. Aku sudah mandi. Aku kemari tadi itu bersembahyang, sekarang aku kehilangan satu sandalku, dan aku tidak tahu apa kata ikan-ikan di laut.”
“Dasar orang gila dan ignoran!” gumannya sambil memandang ke laut.
Busyeettttt...siapa yang tidak terpana dibilang orang gila oleh orang gila.
“Apa yang kamu lihat?” tanyaku memecah jeda panjang percakapan.
“Temanmu,”
“Siapa temanku?”
“Dia yang selalu menemanimu, maaf tidak selalu, hanya bila kadang-kadang itu tiba.”
“Siapa dia?”
“Ikan-ikan itu!”
“Jadi temanku banyak...bukan hanya satu ikan ya?!”
“Iya...dia yang mengantarkanmu menembus ketakutanmu.”
Busyeettt....sekarang aku benar menjadi gila. Karena ikut asik terlarut dalam gaib orang gila ini.
“Jadi kamu harus mandi dulu, karena kamu kotor!”
“Maafkan, aku manusia memang kotor. Bagaikan telor, putih di luar, kuning di dalam.”
“Jangan hanya di bibir saja. Kalau merasa kotor, mandilah sekarang”
Bingungnya aku setengah mati. Dimana aku harus mandi? Aku takut bertanya karena bagaimana nanti kalau dia bilang aku harus nyebur ke laut atau ikut bermain dengannya.
Dan kegilaan itu semakin menjadi. Aku berusaha mencari jawaban bagaimana caranya aku mandi. Kupikir akan ada jawaban yang tidak dipertanyakan ketika aku sudah mandi. Aku diam, membayangkan lautan, air, ikan-ikan dan putri duyung sekalian monster laut.
“Semuanya ada di bawah sana!”
Jiaaahhh! Apa dia bisa membaca pikiranku?
“Ya” jawabku asal-asalan.
“Kamu sudah mandi.”
“Oh jadi aku sudah mandi?”
“Ya.”
“Sering-seringlah mandi, membuka pakaianmu, mencuci isi di dalam kerangmu yang katos dan tebal itu. Bukalah katupnya ketika arus melewatinya, biarkan arus mengasahnya menjadi mutiara berkilau. Jangan ulangi sejarah-sejarah yang tidak bertepi. Hadapi batas horisonmu, hajar ketakutanmu. Ikan-ikan itu akan mengantarkanmu mengenali apa yang kamu lupa. Hey...Ambra...tidak bosankah kamu menjadi orang bodoh?”
Aku terbelalak, menelan ludah karena merasa diserang oleh kehausan yang kering kerontang.
“Ya...aku harus memuaikan paru-paruku untuk bisa bernafas mencerna kata-katamu.”
“Buka matamu jangan hanya untuk melihat. Bagaimana ingin jadi manusia kalau yang kasad saja tidak kamu lihat.”
Ampun Tuhan.... perjalanan kehilangan sandal.
“Kamu ingin mendapatkan apa yang kamu inginkan?”
Aku mengangguk.
“Mungkinkah manusia mendapatkan apa yang diinginkan?”
“Tergantung apakah manusia itu sudah mandi atau belum.”
“Kalau belum mandi pasti susah mendapatkan, tapi apakah kalau sudah mandi, bisa mendapatkan apa yang diinginkannya?”
“Ya! Karena apa yang diinginkannya itu baik itu alam. Apa yang diinginkannya tidak merugikan siapapun mahluk Yang Maha Lebih. Itulah keabadian yang tidak abadi.
Diapun memberikan sandalku.



manusia bumi dan ogoh-ogoh

Rupanya sudah 1936 kali peradaban Çaka melewatinya dengan menyepi. Mengamati Sanghyang Hning di dalam hawa. Suara-suara semakin jelas bermanefestasi, walau itu ilusi dalam frekwensi ketidak-abadian. Di hamparan ladang pikiran, udara mengantarkan molekul ingatan, melampiaskan potongan rekaman cerita yang masih terputus. Selintas ada sepotong wajah dengan mata nanar tersesat di sebuah alam, melongok di balik helai-gelai bunga kertas yang menjuntai di halaman kebun. Mulutnya bercoleteh tentang sebuah peringatan dari semesta. Buih-buihnya meluber menampik kenyataan kalau manusia seharusnya membumi. Molekul itu meloncat laksana kutu monyet, menggambarkan betapa dalamnya sebuah budaya. Ogoh-ogoh terbayang, melayang pelan di udara. Apa yang hendak kutafsirkan dari kedua bintik fenomena kisah Bumi yang terekam di otak?

Menjadi orang Bali yang ingin berakar budaya tidak lah mudah. Menjadi orang Bali yang sadar bertradisi tidak cukup dengan berkesenian, tidak cukup dengan meyakini bahwa Leluhur selalu datang memberkati keberuntungan kita, tidak cukup dengan membaca, tidak cukup dengan mencangkupkan tangan menyembahNya, dan tidak cukup hanya menerima.

Tattwa, Etika dan Yadnya merupakan sebuah kesatuan yang wajib dimengerti. Kalau tidak, maka selamat, kamu akan tersesat di alam "entahlah", dengan ciri-ciri fisik seperti meyakini dirimu bisa berdialog dengan sinar Tuhan dan/atau  sejenisnya, atau suka mengembara dari gunung ke gunung mencari sebuah chaneling semesta demi kesempurnaan dan masih banyak lagi contoh yang kalau dilogikakan sangat tidak membumi.

Ibaratnya tergelincir karena merasa pintar, karena merasa diri terpilih, namun ketika kita masuk ke dalam kamar tidur, ada sebongkah kekosongan dan sebilah belati yang menusuk-nusuk pori-pori rahim tubuh.

Meyakini Hindu bukan berarti harus menggampangkan cara tanpa harus belajar tattwa, etika, yadnya dan paham kalau ada empat jalan menuju pencerahan. Ribuan kasus telah mengantarkan banyak manusia tersesat di alam "entahlah". Penyebabnya dipicu oleh dasar kebaikan;  hasrat ingin memerangi kegelapan. Tapi mengapa kegelapan yang membungkus rahasia Tuhan yang ingin dikuak? Mengapa harus menguak rahasia Tuhan dengan dalil mencari hakekat diri sampai ke alam "entahlah"? Mengapa manusia tidak berpuas diri berusaha mencerahkan dirinya dulu? Mengapa manusia tidak berani jujur mengatakan apa yang diputuskan dan dikerjakan atas nama dirinya sendiri? Mengapa harus mengatakan bahwa semua rencana, perbuatan dan hasil itu atas nama Tuhan berserta sinar-sinarnya? Lebih kacau lagi ketika kamu menyampaikan kepada yang lainnya kalau kamu telah melihat yang tidak terlihat, lalu melihat datangnya bencana kutukan bilamana kami tidak menuruti kehendakNya yang keluar melalui mulutmu? Meyakini Hindu itu tidak cukup dengan meyakini  warna-warni manifestasi yang menggunakan tubuhmu untuk bergaul dengan manusia.

Lalu kapankah kamu bergerak dan berbuat sebagai dan atas nama dirimu sendiri? Sepertinya dirimu tak beda dengan tarian ogoh-ogoh itu. Efek ketakjuban umat yang melihatnya hanya sebentar. Hanya terkagum ketika dirimu merasa ditarikan oleh Hyang lain. Hyang lain dalam dirimu sendiri, yang kamu anggap sinar suci semesta.

Sebentar teringat dengan seorang budayawan eksetrik yang mengatakan,"Kalau saya bermeditasi, saya bisa naik sepuluh senti, saya bisa berkoar kalau saya mati moksa, dan tubuh saya ini dipakai oleh seorang Dewi Naga Air dari Tiongkok. Anda tidak percaya dengan saya? Dan anda adalah seorang malaikat. Anda harus suci dan semua orang bisa menjadi pilihan Hyang Gaib...Tapi..tapi...tapi...," lanjutnya sambil terkekeh. Rambut dan jenggot putihnya dibelainya lembut, lalu memandangi saya sambil berkata tegas," Tapi itu bukan tujuan saya, saya manusia Bumi, maka saya ingin membumi."

Maka jadilah manusia Bumi yang membumi, dengan sifat-sifat yang sebumi. Berbuatlah baik untuk Bumi bukan untuk alam "entahlah". Untuk manusialah kita berbuat baik, untuk alam dan seisinya. Para Dewa, Malaikat dan serba-serbi gaib sudah punya wilayah dan petugasnya masing-masing. Manusia lahir di Bumi maka tugasnya di Bumi untuk berbuat baik bagi kelangsungan hidup Bumi. Bilamana kamu merasa seperti orang sejenis Nabi, maka tutuplah mulutmu, sebarkan kebaikan kepada Bumi bukan membuat Bumi ini onar karena celotehanmu yang tidak masuk akal. Belajar mengkaji fenomena Bumi yang riuh dari tarian ogoh-ogoh menjelang Nyepi 31.Maret 2014 di Bali.