Rupanya sudah 1936 kali peradaban Çaka melewatinya dengan menyepi. Mengamati Sanghyang Hning di dalam hawa. Suara-suara semakin jelas bermanefestasi, walau itu ilusi dalam frekwensi ketidak-abadian. Di hamparan ladang pikiran, udara mengantarkan molekul ingatan, melampiaskan potongan rekaman cerita yang masih terputus. Selintas ada sepotong wajah dengan mata nanar tersesat di sebuah alam, melongok di balik helai-gelai bunga kertas yang menjuntai di halaman kebun. Mulutnya bercoleteh tentang sebuah peringatan dari semesta. Buih-buihnya meluber menampik kenyataan kalau manusia seharusnya membumi. Molekul itu meloncat laksana kutu monyet, menggambarkan betapa dalamnya sebuah budaya. Ogoh-ogoh terbayang, melayang pelan di udara. Apa yang hendak kutafsirkan dari kedua bintik fenomena kisah Bumi yang terekam di otak?
Menjadi orang Bali yang ingin berakar budaya tidak lah mudah. Menjadi orang Bali yang sadar bertradisi tidak cukup dengan berkesenian, tidak cukup dengan meyakini bahwa Leluhur selalu datang memberkati keberuntungan kita, tidak cukup dengan membaca, tidak cukup dengan mencangkupkan tangan menyembahNya, dan tidak cukup hanya menerima.
Tattwa, Etika dan Yadnya merupakan sebuah kesatuan yang wajib dimengerti. Kalau tidak, maka selamat, kamu akan tersesat di alam "entahlah", dengan ciri-ciri fisik seperti meyakini dirimu bisa berdialog dengan sinar Tuhan dan/atau sejenisnya, atau suka mengembara dari gunung ke gunung mencari sebuah chaneling semesta demi kesempurnaan dan masih banyak lagi contoh yang kalau dilogikakan sangat tidak membumi.
Ibaratnya tergelincir karena merasa pintar, karena merasa diri terpilih, namun ketika kita masuk ke dalam kamar tidur, ada sebongkah kekosongan dan sebilah belati yang menusuk-nusuk pori-pori rahim tubuh.
Meyakini Hindu bukan berarti harus menggampangkan cara tanpa harus belajar tattwa, etika, yadnya dan paham kalau ada empat jalan menuju pencerahan. Ribuan kasus telah mengantarkan banyak manusia tersesat di alam "entahlah". Penyebabnya dipicu oleh dasar kebaikan; hasrat ingin memerangi kegelapan. Tapi mengapa kegelapan yang membungkus rahasia Tuhan yang ingin dikuak? Mengapa harus menguak rahasia Tuhan dengan dalil mencari hakekat diri sampai ke alam "entahlah"? Mengapa manusia tidak berpuas diri berusaha mencerahkan dirinya dulu? Mengapa manusia tidak berani jujur mengatakan apa yang diputuskan dan dikerjakan atas nama dirinya sendiri? Mengapa harus mengatakan bahwa semua rencana, perbuatan dan hasil itu atas nama Tuhan berserta sinar-sinarnya? Lebih kacau lagi ketika kamu menyampaikan kepada yang lainnya kalau kamu telah melihat yang tidak terlihat, lalu melihat datangnya bencana kutukan bilamana kami tidak menuruti kehendakNya yang keluar melalui mulutmu? Meyakini Hindu itu tidak cukup dengan meyakini warna-warni manifestasi yang menggunakan tubuhmu untuk bergaul dengan manusia.
Lalu kapankah kamu bergerak dan berbuat sebagai dan atas nama dirimu sendiri? Sepertinya dirimu tak beda dengan tarian ogoh-ogoh itu. Efek ketakjuban umat yang melihatnya hanya sebentar. Hanya terkagum ketika dirimu merasa ditarikan oleh Hyang lain. Hyang lain dalam dirimu sendiri, yang kamu anggap sinar suci semesta.
Sebentar teringat dengan seorang budayawan eksetrik yang mengatakan,"Kalau saya bermeditasi, saya bisa naik sepuluh senti, saya bisa berkoar kalau saya mati moksa, dan tubuh saya ini dipakai oleh seorang Dewi Naga Air dari Tiongkok. Anda tidak percaya dengan saya? Dan anda adalah seorang malaikat. Anda harus suci dan semua orang bisa menjadi pilihan Hyang Gaib...Tapi..tapi...tapi...," lanjutnya sambil terkekeh. Rambut dan jenggot putihnya dibelainya lembut, lalu memandangi saya sambil berkata tegas," Tapi itu bukan tujuan saya, saya manusia Bumi, maka saya ingin membumi."
Maka jadilah manusia Bumi yang membumi, dengan sifat-sifat yang sebumi. Berbuatlah baik untuk Bumi bukan untuk alam "entahlah". Untuk manusialah kita berbuat baik, untuk alam dan seisinya. Para Dewa, Malaikat dan serba-serbi gaib sudah punya wilayah dan petugasnya masing-masing. Manusia lahir di Bumi maka tugasnya di Bumi untuk berbuat baik bagi kelangsungan hidup Bumi. Bilamana kamu merasa seperti orang sejenis Nabi, maka tutuplah mulutmu, sebarkan kebaikan kepada Bumi bukan membuat Bumi ini onar karena celotehanmu yang tidak masuk akal. Belajar mengkaji fenomena Bumi yang riuh dari tarian ogoh-ogoh menjelang Nyepi 31.Maret 2014 di Bali.

No comments:
Post a Comment