berbicara dengan orang gila
Sejak aku datang di kawasan Pura itu, aku sudah tertarik
dengan dia. Tingkahnya agak lain. Dia suka bermain dengan monyet-monyet nakal
di sekitar hutan yang mengelilingi Pura. Aku memandang dia sebentar tanpa ingin
memperhatikan. Aku memandang dia bukan karena aku heran namun hanya sebagai
sikap spontan seperti signal sapaan. Aku mengeluarkan sajen persembahyangan
dari dalam mobil, menutup mobil lalu menguncinya kemudian berjalan menuju ke
dalam Pura. Ketika aku melewati dia, serentak monyet-monyet bubar bermain
dengan dia. Dia melongo memandang laut. Aku seperti latah, ikut memandang laut.
Tidak ada apa disana hanya ada air laut dan batas horizon. Aku lanjutkan lagi langkah
menuju ke sebuah Pura berdinding bukit.
Puji syukur semuanya berjalan lancar dan damai. Setelah
bersembahyang, aku diajak ngobrol oleh wanita tua yang bergelar Jero Mangku
Lingsir, dia pemangku Pura disana. Mungkin memang sudah kesukaannya, wanita tua
itu menceritakan pengalaman mengenai
kekuatan mistik dan gaib, kekuasaan, taksu wibawa dan musim hujan. Aku cukup
mendengarkan saja, sambil sesekali membetulkan statemennya tentang tema tadi.
Anggap saja itu sebuah percakapan ringan sambil berbenah sebelum pamit.
Sebelum aku meninggalkan Pura, wanita yang bergelar, Jero
Mangku Lingsir itu berkata sambil menunjuk ke arah laut,” Bu, hati-hati dengan
dia, jangan didekati, dia orang gila. Berbahaya!”
Aku menoleh ke arah jari telunjuk wanita tua itu mengarah
dan langsung paham dengan apa yang dimaksud Jro Mangku Lingsir itu. Siapa lagi
kalau bukan orang yang sedang bermain dengan monyet-monyet itu. Ternyata dia,
orang yang membuatku tertarik sejak kedatanganku. Aku tersenyum dan mengangguk
kemudian menuruni tangga keluar menuju mobil.
Sama seperti sebelumnya “dia” masih terlihat sibuk asik
bermain, sama sibuknya dengan aku yang sedang meringkas barang sehabis
persembahyangan di dalam mobil. Tiba-tiba seperti ada yang mendorong badanku ke
kanan dengan halus, sampai aku agak oleng, dengan kaki kiri terangkat ke atas
sedikit. Dalam satu hentakan sandalku diculik oleh satu monyet besar. Sontak
aku terkejut dan panik. Aku berusaha mengembalikan orientasi pikiranku, menarik
fakta-fakta kejadian kronologis kenapa sandalku lepas dari kakiku. Lalu mataku menoleh
ke arah “dia”, yang sedang memandangi aku. Aku tutup mobilku, dengan berjalan
memakai satu sandal aku dekati dia.
“Hai, saya Ambra, sandal saya diambil oleh temanmu,”
sapaku kaku, benar saja bagaimana kata-kata Jro Mangku Lingsir sudah
mengkontaminasi otakku sehingga menimbulkan rasa takut di pikiranku.
“Saya sedang mandi,” jawabnya.
Tak heran kalau mataku hampir copot. Bagaimana dia bilang
dirinya sedang mandi padahal jelas-jelas dia sedang bermain dengan segerombolan
monyet di tanah, di depan gundukan sampah-sampah hasil dari persembahyangan.
“Kamu mau ikut mandi, Ambra?” tanya dia lagi sambil
tersenyum dan santai menanggapi para monyet ada yang bertengger di bahunya,
mengobrak-abrik rambutnya, ada yang di pangkuannya, ada yang bergelayut
dibadannya. Dan itu dia, si monyet dengan sandalku menghampiri dia, lalu duduk
disamping dia, sambil menciumi sandalku.
“Itu...itu...temanmu mengambil sandalku. Jangan diciumi,
sandal itu kotor,” kataku sambil berharap dia mengerti bahasaku.
Dia menoleh sejenak ke arah monyet yang menciumi
sandalku. Busyet ...dan monyet itu pun membalas tatapannya sambil menyeringai,
kemudian lanjut lagi menciumi sandalku. Edan ini!
“Kamu bukan orang gila toh?!” tanya dia kepadaku.
Jawabanku mantap langsung menggeleng.
“Apa kata ikan-ikan itu? Mereka itu anak-anakku. Aku
sedang memandikannya. Kalian itu pelit, hanya bisa menyalahkan hantu!” katanya.
Wahhhh...ini dia! Apa orang bilang kalau begini. Rasanya
ingin aku pergi meninggalkan dia, membiarkan sandalku diambil monyet itu. Aku
relakan dengan senang hati. Nanti di jalan aku beli lagi sandal jepit murah.
Mungkin ini sebuah ujian untuk tidak terikat dengan obyek dunia dengan sebuah
sandal, sandal kesayanganku, yang kubeli di sebuah negeri antah berantah. Yah
ndak apalah, mungkin monyet itu suka sandalku.
“Bukankah kamu sedang bermain dengan monyet? Ikan-ikan di
laut, di seberang sana,” jawabanku adalah simbul sebuah keterpikatan untuk
berada bersama dia.
“Kamu ikutlah mandi biar ikan-ikan itu pun merasa nyaman
di laut,” katanya lagi.
“Tidak. Aku sudah mandi. Aku kemari tadi itu
bersembahyang, sekarang aku kehilangan satu sandalku, dan aku tidak tahu apa
kata ikan-ikan di laut.”
“Dasar orang gila dan ignoran!” gumannya sambil memandang
ke laut.
Busyeettttt...siapa yang tidak terpana dibilang orang gila
oleh orang gila.
“Apa yang kamu lihat?” tanyaku memecah jeda panjang
percakapan.
“Temanmu,”
“Siapa temanku?”
“Dia yang selalu menemanimu, maaf tidak selalu, hanya
bila kadang-kadang itu tiba.”
“Siapa dia?”
“Ikan-ikan itu!”
“Jadi temanku banyak...bukan hanya satu ikan ya?!”
“Iya...dia yang mengantarkanmu menembus ketakutanmu.”
Busyeettt....sekarang aku benar menjadi gila. Karena ikut
asik terlarut dalam gaib orang gila ini.
“Jadi kamu harus mandi dulu, karena kamu kotor!”
“Maafkan, aku manusia memang kotor. Bagaikan telor, putih
di luar, kuning di dalam.”
“Jangan hanya di bibir saja. Kalau merasa kotor, mandilah
sekarang”
Bingungnya aku setengah mati. Dimana aku harus mandi? Aku
takut bertanya karena bagaimana nanti kalau dia bilang aku harus nyebur ke laut
atau ikut bermain dengannya.
Dan kegilaan itu semakin menjadi. Aku berusaha mencari
jawaban bagaimana caranya aku mandi. Kupikir akan ada jawaban yang tidak
dipertanyakan ketika aku sudah mandi. Aku diam, membayangkan lautan, air,
ikan-ikan dan putri duyung sekalian monster laut.
“Semuanya ada di bawah sana!”
Jiaaahhh! Apa dia bisa membaca pikiranku?
“Ya” jawabku asal-asalan.
“Kamu sudah mandi.”
“Oh jadi aku sudah mandi?”
“Ya.”
“Sering-seringlah mandi, membuka pakaianmu, mencuci isi
di dalam kerangmu yang katos dan tebal itu. Bukalah katupnya ketika arus
melewatinya, biarkan arus mengasahnya menjadi mutiara berkilau. Jangan ulangi
sejarah-sejarah yang tidak bertepi. Hadapi batas horisonmu, hajar ketakutanmu.
Ikan-ikan itu akan mengantarkanmu mengenali apa yang kamu lupa. Hey...Ambra...tidak
bosankah kamu menjadi orang bodoh?”
Aku terbelalak, menelan ludah karena merasa diserang oleh
kehausan yang kering kerontang.
“Ya...aku harus memuaikan paru-paruku untuk bisa bernafas
mencerna kata-katamu.”
“Buka matamu jangan hanya untuk melihat. Bagaimana ingin
jadi manusia kalau yang kasad saja tidak kamu lihat.”
Ampun Tuhan.... perjalanan kehilangan sandal.
“Kamu ingin mendapatkan apa yang kamu inginkan?”
Aku mengangguk.
“Mungkinkah manusia mendapatkan apa yang diinginkan?”
“Tergantung apakah manusia itu sudah mandi atau belum.”
“Kalau belum mandi pasti susah mendapatkan, tapi apakah
kalau sudah mandi, bisa mendapatkan apa yang diinginkannya?”
“Ya! Karena apa yang diinginkannya itu baik itu alam. Apa
yang diinginkannya tidak merugikan siapapun mahluk Yang Maha Lebih. Itulah
keabadian yang tidak abadi.
Diapun memberikan sandalku.
No comments:
Post a Comment